0 LINGKARAN (I)

Sabtu, 10 September 2011 Label:


masuklah ke dalam lingkaran ini
wahai mulut yang suka berbisik
wahai mata yang gemar mengintip.
disini ada bahasa yang tak muat untuk mautmu
ketika kau berucap, seringkali tenggorokanmu tersedak
kau akan menguap untuk kemudian mengumpat

disini ada pula hamparan yang tak digemari matamu
ada gambar yang tak diterima oleh pandangmu
ketika kau melihat, seringkali kau akan mengerjap
kau akan menatap tanpa kejap
untuk kemudian  menutup mata rapat-rapat

tapi kita akan menuju sebuah akhir lingkaran yang tertebak
mata kita akan melihat pandang yang sama
mulut kita akan berbusa dalam seragam bahasa
lalu kita akan merasakan pertengkaran-pertengkaran yang biasa.
Read more

0 LUKISAN YANG HENDAK DISELESAIKAN

Label:

1.    di dalam kanvas ia adalah lelaki pendiam s
seumpama ada yang bertahun-tahun ia peram

ia bermain catur sendirian;
tak ada seorang lawan di hadapan
putih pun hitam utuh ia genggam

2.    hanya tersisa dua raja di atas papan
dua ekor kuda dan petarung berserakan

di luar lelaki itu hanya ada jam dinding
dan beberapa tangkai bunga kering

petaka di atas papan ia tempuh tanpa kata-kata
 sebab kata-kata pun telah ia kalahkan sejak lama

3.    perihal siapa yang akan menang
bidak putih atau bidak hitam
apalah sesungguhnya beda keduanya?
sebab medan ini hanya ia tempuh sendirian
dan dari tangannya nasib berlepasan

4.    benarkah ia pembawa kabar gembira itu?
ataukah hanya seorang algojo yang pemalu?

5.    di lukisan itu ia hanya bermain catur sendirian
pura-pura tak mendengar suara bidak yang bungkam
(2010)
Read more

0 RINDU AIR

Label:

ia sudah lama menjadi air yang genang di jalan lengang itu. dulu ketika musim belum tembaga, ia sering singgah pada kuncup, kolam atau batuan di batang air. ia lihat rumput yang menjulur kaki, ia pahami akar tua yang membenam wajah, dan semua ranting serta daun yang luruh. ia dengar bisikan angin pada matahari, pada malam dan pada waktu

ia pernah jatuh pada atap. ia pernah membiak pada sajak. ia pernah berumah pada mata dan pada aquarium di jantung lelaki penyamun cinta yang ranum. pada atap ia pecah dari bongkah demi basah. pada sajak ia mengendap mabuk arak. pada mata ia kelindan lara duka. pada jantung ia gelembung cinta yang larung.

kini ia rindu dirinya pada atap, sajak, mata dan jantung kadang ingin sekali ia bisa merindukan dirinya sebagai hujan; sekedar isi pada separoh tempurung yang menampung, yang berserak di tepian lengang sebuah halaman. Kadang, ketika malam, ingin sekali ia datang sebagai atap, sajak, mata atau jantun yang menggenang di ingatan murung.

(2009)







 
Read more

0 lorong

Label:


engkau belum percaya juga?
baik. aku undang engkau datang
ke lorong panjang dengan sebuah pelaminan di ujungnya 
masuk dari belakang kepalaku sebelah kanan
bangku-bangku patah sandaran acak-acakan
meja bundar dekat lemari yang sekaligus jadi dinding terburai lacinya
seolah baru saja terjadi perampokan
pada sebuah pesta pernikahan
pengantinnya disandera dan tetamu menyelamatkan diri
silakan engkau duduk, aku sudah tidak tahan
merahasiakan sebab mengapa keramaian hilang
padahal ini lorong puisi
mestinya selalu ada banyak manusia
sekalipun tidak semuanya bahagia
engkau dan aku bergabung
mengerubungi jamuan
menyalami pengantin
berfoto di pelaminan
lalu meninggalkan kado  
mestinya begitu. tetapi tidak
memasukinya membuat kuduk seketika dingin
melihat kain pintu bergoyang
dan aroma kembang setaman menjangkau penciuman
ada juga anyir kematian
seakan penjarahan dan pembunuhan sering terjadi di sini
kalau sudah begitu, engkau boleh tidak percaya
mengingat ini lorong puisi
2009

















Read more

0 shafiy kecil penyembuh sakit, Amak

Label:


di jalan keluar pengunjung
sebuah tikungan siku-siku
seorang nenek mencabuti tali dari matanya
semakin panjang tali itu, semakin panjang pula tawanya
adalah shafiy, bocah perempuan, sangat rapi rambut dan sepatunya,
tampak riang menari lenggang
ia tarik tali itu,
"ini tali apa, nek?"
"ini tali tangis, nak!"
"tangis nenek wangi, ya!"
diciuminya tali itu
hingga tepi pelupuk mata si nenek berair-air
“kuberitahu rahasia padamu,” ucap si nenek.
“tangis itu obat,”
si shafiy kecil tidak mengerti
ia diajak ibunya ke rumah banyak simpang itu memang mencari obat
tapi bukan obat yang disebut nenek
pada tikungan kedua, simpang empat
menjelang kamar mayat
di tengah tubuh berbaju perban lalu-lalang
seorang kakek mengurai cabikan kain dari mulutnya
ia seperti menjahit guntingan perca
yang biasa diikatkan ke pinggang orang-orang sawah
semakin panjang kain itu, makin panjang pula sudut bibirnya
shafiy, si bocah perempuan yang rapi rambut dan sepatunya tadi heran
ia berlari pula ke hadapan si kakek yang menganga antara tangis dan tawa
"ini kain apa, kek?"
"ini kain bahagia, cucu"
"kakek bahagia?"
"tepatnya, kakek sedang mengeluarkan bahagia dari perut kakek,"
si shafiy makin tidak mengerti
sampai kain perca berubah jadi rantai besi
kakek terbungkuk menghelanya
semakin ia hela, semakin keras dentingnya
wajah kakek bercahaya
seakan rantai itu memutar dinamo penyala dua lubang di atas hidungnya
si shafiy yang mungkin tidak akan pernah mengerti berjingkrak
menghampiri kakek
"kakek, ini rantai apa pula?"
"ini rantai keinginan, cucu!"
"keinginan kakek hangat, ya? tapi sudah berkarat,"
shafiy pun ikut menarik rantai itu
ia raih ke dadanya yang masih lunak
hingga orang-orang berbaju perban berdatangan
pengumpul dan penyampai berita pun berdesakan
riuh rendah suara mengabarkan:
“pada sebuah rumah sakit, shafiy, si anak kecil,
berhasil membantu mengeluarkan penyakit
dari perut sepasang kakek-nenek!” 
2010 

Read more

0 bus kota dalam dada

Label:

“suara apa di dalam?” tanyamu.
ketika itu, sepulang menyiang tembakau
aku senang menyuruhmu telungkup
dan tidur di punggungmu
“suara orang menumbuk padi,” jawabku.
lalu kita seperti menemu pusung. berduyun ke langgar tepi kampung
berebut putik mentimun sebelum magrib menyaga
dan angka-angak meraja
di ceruk belukar ransam, kita kelukkan daun pakis
itulah mahkota, aku raja kau ratunya. Kita pun kawin-kawin
kisah yang dicemburui anak-anak tupai ini kelak, katamu
jadi kenangan paling harum dalam kubur
lebihi pisang panggang, randang ubi
atau pun reroti yang kemudian membesarkan anak-anakmu
di kota
di kali penghabisan, kita masih sempat menafsir rumpun kacang
menandai luka miang gabah yang cecer
barangkali pematang sawah; torotoar; bahu ibu kita
ditumbuk tahun-tahun, umpama ketela luluh dalam kue-kue
tapi tubuhmu telah bujur
“peluk dadaku. kau tahukah, tangis siapa di dalam?”
aku dekatkan telinga. batin.
“aku mendengar bus kota. ia mendekat. lalu jauh,”
tapi jawabku berganti gagau.
parau.
padang, 2007
Read more

2 kampung dalam akuarium

Label:


 
ke pemancingan mana lagi kautumpahkan rindu
melumutkan kecemasan pada lendir umpan
dan mata kail yang lapar
agar ikan-ikan mau kaubujuk bercerai dengan lubuk
dan pulang ke kampung penggorengan
pelengkap hidangan di meja makan
kau tahu, sejauh-jauh pergi menyisir bibir sungai,
hanya untuk mencari air keruh,
ikan-ikan pilihan tak akan memakan umpan dalam kejernihan
kau tinggalkan hulu yang hening-bening
muasal segala arus terus menghanyutkan
anak-anak pantau dengan sejarah hambar
entah arah mana akan dituju
sebut saja, kampung berair jernih berikan jinak;
berair keruh berikan liar;
berair tawar berikan banyak
alamat kepulangan yang pahit
aku beritahu, andaikata usahamu sia-sia, pulanglah.
aku dan ikan-ikan yang kauburu
setelah penggusuran itu
kini tinggal di kampung baru
mendekam di kamar air empat persegi
pada sebuah ruang tamu tidak berhulu-bermuara
hanya gelembung-gelembung dihembus tenaga listrik
juga kincir-kincir plastik
batu-batu buatan dan lukisan karang di balik kaca
terasa seperti menyelam-melintas di antara
tanjung dan teluk kampung pesisir yang tenang
meski tidak ada kapal-kapal berbenah
bagi pelayaran para pelaut
apalagi jejaring pukat ikan karang
bertandanglah, oi pemancing
bukankah sungai-sungai yang menghilir
dari hunjaman kaki-kaki hujan
sudah tidak mampu menafsirkan kehendak air matamu
dan kerinduan tidak selamanya mesti dipuaskan
dengan tancapan mata kail di rahang ikan yang rakus
aku bayangkan kau datang
sebelum insangku sempurna jadi karang
menyematkan mata kail
di setiap saku baju para tamu
2010





















Read more
 
Dani-Quinchy © 2010 | Designed by Blogger Hacks | Blogger Template by ColorizeTemplates