“Oh
tidak. Hujan!” Ucap Diana dengan nada suara yang tinggi, berusaha mengalahkan
bunyi hujan. Ia berlari mengejar halte, aku mengikutinya dari belakang.
Aku
duduk di sampingnya sambil berusaha agar tidak kelihatan kikuk. Sementara,
udara terasa dingin. Seekor burung berlindung di atas balkon rumah bertingkat
di seberang jalan. Sementara, pakaian putih abu-abu yang lembab di tubuh Diana
membuatnya terlihat memesona.
Aku
ingin lebih lama lagi dalam deras hujan ini bersamanya, tanpa memperhitungkan
kapan kami akan mengakhiri perjumpaan. Sepanjang hari. Siapa pun pasti selalu
ingin dekat dengan Diana. Sudah pintar, jago masak, suaranya pun merdu.
Diana
pernah menjuarai lomba menyanyi tingkat nasional. Meskipun begitu, Diana tidak
pernah merasa angkuh dengan reputasi yang dimilikinya. Semua cowok jatuh hati
dibuatnya. Semua cewek di sekolah iri padanya.
Dan,
wajar saja kalau aku betah berlama-lama di halte ini bersamanya. Jarang banget
cowok-cowok di sekolah yang punya kesempatan seperti ini. Tentu saja, aku tak
ingin kesempatan seperti ini berlalu bagai angin. Inilah saat yang tepat untuk
menyatakan perasaanku padanya.
Aku
merasa beruntung. Dalam keadaan seperti ini, aku bisa duduk berdua dengannya,
di halte. Rasa-rasanya aku ingin hujan terus turun sepanjang hari.
Diana
mengibas rambutnya yang basah dengan kedua telapak tangannya yang mungil.
Rambutnya berkilauan indah tergerai sepanjang bahu. Ia rapikan dengan
hati-hati.
“Aku
enggak menyangka kalau kita harus terkurung hujan begini,” aku memulai
pembicaraan meskipun hatiku tiba-tiba berdebar dan sikapku yang terlihat
canggung.
“Iya
nih. Enggak tahu deh tiba-tiba turun hujan,” ujar Diana sambil terus merapikan
rambutnya yang basah.
Beberapa
saat kami kembali diam. Sepertinya suaraku ditelan gemericik hujan yang
menusuk-nusuk atap halte. Kualihkan pandang kepada seekor burung yang masih
berlindung di atas balkon. Burung itu terus mengibaskan sayapnya dan sesekali
mengelusnya dengan paruh. Tentu saja burung itu tidak akan tahu kapan hujan
akan berhenti. Ia juga tidak akan dapat menebak kapan si pemilik rumah akan
muncul dari atas balkon dan mengusirnya.
Diana
mendengus. Perhatianku terhadapnya jelas-jelas mengalahkan keelokan seekor
burung di atas balkon. Matanya yang lembut memancarkan keriangan yang murni.
Seolah-olah ratusan anak-anak sedang bermain komidi putar di dalamnya.
Diana
tiba-tiba berdiri, mendekat ke arah hujan yang jatuh dari atap halte. Dia
rentangkan kedua tangannya ke depan. Meraih hujan. Sehingga telapak tangannya
menimbulkan percik air. Dan kurasa ia sedang berada dalam kebosanan yang abadi.
“Konyol
sekali ya, di saat-saat seperti ini harus turun hujan,” aih, tidak. Aku mulai
melakukan hal bodoh lagi dengan berkali-kali membicarakan cuaca.
Kuperhatikan,
ia terus merentangkan tangannya dan membiarkannya dipercik hujan. Kurasa dia
tidak mendengar apa yang baru saja kukatakan. Barangkali bunyi hujan lebih
hebat dari keinginanku untuk mengajaknya bicara. Apakah dia benar-benar merasa
bosan?
“Mosca,”
katanya dengan suara yang pelan. Aku dengan sangat jelas mendengarnya. Tetapi
dia tidak menoleh ke arahku. Pandangannya tertuju hanya pada percik hujan yang
muncul dari telapak tangannya. Aku berdiri dan mendekatinya.
“Ya.”
“Aku
suka hujan.”
“Ya.”
“Tetapi
aku lebih suka beberapa saat setelah hujan reda.”
“Kenapa?”
“Biasanya
akan ada pelangi.”
“Pelangi?”
“Ya.”
“Sebenarnya
apa yang kau sukai?”
Diana
menurunkan tangannya. Dia berbalik, mendengus dan duduk sambil menatap ke
langit. Aku menjadi heran. Hujan pun mereda. Burung di atas balkon melangkah ke
tepi, mengepakkan sayapnya berkali-kali untuk membuang sisa-sisa air yang
menempel pada bulunya.
“Mengapa
ya kita tidak bisa menyukai keduanya dalam waktu yang bersamaan?”
Aku
terdiam. Tak dapat membendung pertanyaan yang dilontarkannya. Beberapa saat
kemudian, hujan mereda. Pikiranku masih terusik oleh pertanyaan itu.
Tiba-tiba,
sebuah sepeda motor merapat di depan halte. Itu Ramon, laki-laki yang
senantiasa bersama Diana. Aku tak hirau. Kuperhatikan Diana mulai beranjak,
matanya melompat jauh ke dalam sepeda motor itu. Perlahan-lahan tubuhnya juga
beranjak ke sana. Dia tidak menunggu jawabanku. Aku terdiam.
Kutolehkan
pandanganku ke atas balkon seraya membiarkan mereka pergi dengan meninggalkan
suara sepeda motor yang semakin sirna di telingaku. Pada saat itu juga, burung
itu terbang jauh meninggalkan rumah bertingkat yang lembab.
Han Hyun Dong menarik napas panjang ketika melihat
keluar jendela dari tingkap apartemen di Youido. Persis di tengah-tengah kota
Seoul yang kini sudah jadi kota “mati.” Gedung-gedung berdesakan seperti
menunggu antrian panjang yang tak pernah berkesudahan. Matahari enggan disapa
sebab perkantoran dan apartemen yang bertingkat-tingkat menghalangi cahayanya.
Orang-orang pun seperti dikejar waktu dan jadilah mereka robot-robot bernyawa
yang bergerak setiap hari secara statis. Ah, barangkali hanya sungai Han yang
bisa jadi hiasan abadi di kota ini. Sungai itu mengalir melewati Seoul. Hyun
tersentak dari lamunan ketika mendengar suara gumamanku yang setengah sadar.
“Kau sudah bangun?” sapa Hyun.
“Ah, aku belum ingin bangun. Sayang, bisakah kau
tutup tirai itu?” pintaku. Hyun malah menghampiri jam weker yang terletak di
atas meja dekat tempat tidur. Kemudian Ia mengangkat jam weker itu lalu
menunjukannya padaku.
“Kau tahu jam berapa sekarang?”
Aku kaget dan langsung melompat dari tempat tidur.
“Ya ampun! aku lupa menyetel alarmnya,” pikirku sembari bergegas ke kamar mandi
tanpa melepas piyama.
Sarapan tersaji. Masakan Hyun menjadi sesuatu yang
selalu ditunggu-tunggu setiap pagi ketika aku akan berangkat kerja.
Rupa-rupanya aku telah jatuh cinta tidak hanya pada Hyun tapi juga pada
masakannya. Sungguh. Kimchi buatannya pagi ini pasti enak. Kadang-kadang
bulgogi di akhir pekan yaitu potongan-potongan daging yang dipanggang di atas
tungku setelah diasinkan dalam sebuah pencampur sambal, minyak wijen, bawang
putih, biji wijen, bawang hijau dan bumbu makanan lainnya. Ia tahu kalau aku
suka pedas dan panas jadi ia menyajikannya dengan “sedemikian rupa.” Makan
dengan tenang. Selepas sarapan aku pamit lalu bergegas turun sedang Hyun
membereskan kembali meja makan. Segera. Turun dengan lift. Tidak. Beberapa hari
yang lalu lift di sini rusak akibat salah seorang penghuni apartemen salah
menekan tombol dari dalam lift tersebut, jadi harus menggunakan satu-satunya
alternatif lain yaitu dengan menuruni tangga. Butuh waktu cukup lama juga untuk
turun dari lantai 26 ini. Ya. Apalagi untuk sampai ke tempat kerja, aku
mengukur waktu supaya tidak terlambat. Sesampai di bawah aku cukup merasa
kelelahan. Sedikit berkeringat. Di depan apartemen terdapat sebuah kolam yang
dihiasi dua kumpulan teratai. Di tengahnya berdiri kokoh sebuah patung yaitu
seorang perempuan (kira-kira usianya tiga puluh-an) yang memegang setangkai
teratai di tangan kanannya, sedangkan tangan kiri menyentuh dada dan matanya
menatap jauh ke dalam air yang berada di kolam tersebut. Biasanya tiap-tiap
rumah ada kolam teratainya tapi sekarang kebiasaan itu hampir jarang dijumpai
kecuali di rumah-rumah daerah pedesaan. Di apartemen ini pun mungkin hanya
suatu kebetulan yang wajar. Jalan penuh sesak. Orang-orang lebih senang berjalan
kaki daripada naik bis. Jalan kaki menjadi alternatif yang dipilih supaya tidak
terlambat pergi ke kantor, sekolah, dan segala tetek bengek kegiatan
sehari-hari lainnya. Mereka beranggapan bahwa jalan kaki lebih cepat sampai di
tujuan daripada naik bis. Terbukti. Di halte. Aku menunggu lagi seperti biasa.
Bis layaknya mesin pengendali kehidupan. Terlambat sedetik saja bisa jadi
terlambat berjam-jam. Untung saja tidak terlambat. Akhirnya sampai juga.
Aku bekerja di Chosun Ilbo. Sebuah instansi surat
kabar tertua yang ada di Korea. Dong-A Ilbo. Juga merupakan yang tertua
bersamaan dengan Chosun Ilbo. Media-media tersebut diresmikan pada tahun 1920
yang (menurut kabarnya) dianggap untuk kemerdekaan dan kebijaksanaan dalam
mempengaruhi opini publik. Sungguh pengalaman yang menyenangkan bisa melakukan
pekerjaan sebagai seorang kreator pada media yang namanya sudah melanglang
buana itu. Tidak mudah mendapatkan pekerjaan ini jadi harus berusaha semaksimal
mungkin.
Pernah suatu ketika aku membuat satu kesalahan
(tepatnya kelalaian) sehingga redaktur memaki-maki aku dan hasil kerjaku yang
menurutnya berantakan. Aku tidak terpukul. Sedih. Juga tidak. Malah jadi tambah
semangat bekerja dan lebih berhati-hati lagi. Jadwal kerja semakin padat.
Sirkulasi surat kabar meningkat tajam. Hampir sepertiga hari kuhabiskan hanya
untuk duduk di kursi kerja. Sibuk. Repot.
Lelah. Kata-kata itu sering muncul dalam pikiranku
setiap kali usai bekerja. Betapa tidak, pagi-pagi tumpukan kertas sudah menanti
lagi di atas meja kerja. Pulang larut. Disamping itu semua, ada hal lain yang
mesti diutamakan. Keluarga. Ya. Ketika tiba di rumah, Hyun seperti biasa
menunggu kepulanganku di kursi sofa dekat depan pintu. Suamiku. Ia laki-laki
tangguh yang bekerja di rumah layaknya seorang ibu rumah tangga. Ia
menggantikan peran sesungguhnya seorang istri. Kadang-kadang ia juga sempat
menulis. Profesinya. Tulisannya pernah dimuat dalam surat kabar tempat aku
bekerja (kadang-kadang juga disurat kabar lain). Ia begitu perhatian padaku
dalam hal apapun. Juga pengertiannya itu. Aku jadi takut kehilangannya. Takut
kalau-kalau nanti ia berubah pikiran.
Festival Chusok. Hari yang ditunggu-tunggu di mana
aku bisa membagi waktu dengan suami di luar pekerjaan. Hilang beban sejenak.
Chusok merupakan perayaan besar yang diiringi oleh tarian Kanggangsuwolle untuk
memperingati hari lahirnya Budha. Di adakan di sebuah ruangan seperti arena
yang luas, biasanya ruangan tersebut memang ditujukan untuk perayaan-perayaan
besar (kadang-kadang juga untuk pementasan). Aku menikmatinya. Juga suamiku.
Tidak. Sanak keluarga tidak sedang bersama kami. Wajar. Aku sudah memilih Hyun.
Aku yakin dengan pilihan ini. Sebenarnya memang dari dulu mereka tidak
menyetujui hubunganku dengan Hyun. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi jauh
meninggalkan mereka. Ah, aku jadi teringat mereka lagi. sudahlah.
Sekarang hidup kami sudah mapan tapi rasanya masih
ada saja yang kurang. Ya. Sudah sewindu kami menikah tapi belum juga dikaruniai
seorang anak yang keberadaannya selalu didambakan dalam kehidupan rumah tangga.
Segala cara kami lakukan. Segala obat kami coba. Ada juga yang dicoba-coba.
Pernah juga sekali waktu kami konsultasi ke klinik. Dokter bilang suamiku yang
tidak mau “berusaha.” Sebenarnya bisa saja kami mengadopsi seorang anak tapi itu
bukanlah suatu keputusan akhir yang kami anggap baik. Hyun tidak marah. Putus
asa. Tidak juga. Sedih apalagi. Padahal aku berkali-kali mencemaskannya, tapi
ia tak memberi reaksi sedikitpun. Apa ia merasa hal ini tidak terlalu penting?
Apa mungkin ini karma? Lama-lama kami jadi merasa asing. Kemelut batin yang
juga asing.
***
Tidak seperti hari-hari yang lalu. Aku pulang
larut lagi. Lebih larut dari biasanya. Di salah satu sudut dinding, jarum jam
menunjukan pukul dua belas lewat dua puluh lima menit tengah malam. Hyun masih
duduk di sofa. Menungguku. Tapi kali ini aku merasaseolah-olah ia menyambut kepulanganku dengan
ribu-ribu pertanyaan. Kemudian ia memanggilku untuk duduk di dekatnya. Aneh.
Padahal biasanya ia langsung menuntunku ke kamar tidur. Aku langsung berpikir
kalau ia akan mengatakan sesuatu yang sangat penting. Lebih dari kata-kata yang
pernah diucapkannya selama ini. Akhirnya aku pun menurutinya.
“Hwa Rin, aku mau bicara. Mungkin sebuah
pertanyaan,” Hyun menatapku tajam.
“Pasti sesuatu yang penting,” aku menebak sembari
meletakkan tas kerjaku di atas meja dekat sofa tempat Hyun duduk.
“Menurutku”
“Menurutmu?”
“Ya, menurutku. Aku tidak yakin menurutmu juga
sama denganku,” Ia lebih tajam lagi menatapku. Sampai ke isi dalam mataku. Aku
jadi semakin bingung dengan apa yang ia sampaikan diawal pertanyaan yang akan
diutarakannya. Semakin penasaran. Aku menimbang bahwa aku ini istri yang baik
selama ini. Bahkan menurut sudut pandangku, aku tidak pernah melakukan
kesalahan yang akan membuatnya sakit hati atau mungkin melakukan sesuatu yang
tidak menyenangkannya. Aku coba mengingat kembali satu persatu. Benar-benar
tidak ada. Sungguh.
“Apa yang menurutmu penting sayang,” kucoba
memegang tangannya.
“Boleh aku minum dulu?” pintanya.
“Minum? Jadi itu yang menurutmu penting?” aku
berbalik tanya.
“Bukan, aku benar-benar ingin minum!” tegasnya.
“Oh, sebentar.” Lalu aku bergegas ke dapur.
Semakin bingung. Kusut. Serupa benang kusut yang
masuk dalam kepalaku. Sulit untuk digulung dengan rapi. Ah, mungkin aku terlalu
berpikiran buruk sehingga aku tenggelam dalam kecemasan. Padahal setahuku
selama ini hubunganku dengan Hyun baik-baik saja. Sekiraku kalau boleh aku
bangga, rumah tanggaku mungkin lebih baik (boleh dibilang akur) daripada keluarga
kebanyakan. Kutuang air dari cerek yang terletak di atas etalase dekat sudut
dapur ke dalam cangkir bermotif teratai yang tertelungkup di atas meja dapur.
Lalu kembali ke ruang tamu tempat Hyun menunggu secangkir air putih dariku.
Sebelum sampai, di balik daun pintu menuju ruang tamu kuhentikan langkahku
sebentar. Kulihat ia masih duduk di sofa dengan wajah mengkerut dan tangan yang
menekuk di keningnya. Sempat terpikir olehku, pertanyaan apa yang akan
disampaikannya padaku hingga ia begitu kalutnya. Ah, lagi-lagi aku begini.
Kuhampiri ia. Sebelum meneguk air itu, sekilas ia menatap tajam lagi padaku.
Sekiraku, aku ini seperti orang lain saja di matanya. Ah, lagi-lagi! Ia
meminumnya. Kubayangkan kalau air putih itu adalah aku. Ditelan ke dalam
perutnya yang gelap.
“Terima kasih Hwa Rin”
“…”
“Dam Hwa Rin? Kenapa?”
“Oh, tidak”
“Aku jadi ragu untuk menanyakannya”
“kenapa? Padahal sudah sedari tadi aku menantinya”
“Aku ragu bila melihat keadaanmu sekarang”
“Tidak, jangan urungkan. Aku sudah siap”
“Siap? Untuk apa? Tidak ada yang perlu di
persiapkan”
“Aku tahu, mulailah bertanya”
“Benarkah?”
“Ya, mulailah”
Lama sekali. Kami saling tertumbuk pandang.
Berdiam diri. Detak jarum jam berbunyi keras sekali hingga menimpali suara
apapun di ruangan ini. Aku masih menunggu lama hanya untuk sebuah pertanyaan
darinya. Pertanyaan yang barangkali menentukan hidup mati perjalanan rumah
tangga kami. Asumsiku demikian. Tapi tidak menutup kemungkinan juga perkiraanku
itu benar. Berbanding lima puluh persen dari kebalikannya.
“Apalagi?” tanyaku.
“Menyusun”
“Menyusun apa,” aku jadi heran.
“Kata-kataku”
“Langsung saja,” pintaku.
“Tidak bisa, salah-salah nanti bisa tersinggung”
“Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa dengan itu”
“Siapa yang telah membuatmu tersinggung?” tanya
Hyun segera.
“Tidak separah yang kau bayangkan, hanya redaktur
yang sedikit kecewa kok,” aku memperjelas kata-kataku.
“Oh, jadi kau mengecewakannya?”
“Hanya sedikit, itu pun tidak begitu penting,”
dalihku.
“Syukurlah”
“Susunlah”
”Apa?”
“Kata-katamu tadi”
“Aku bingung memulainya, bagaimana kalau kita
istirahat dulu?” tawar Hyun.
“Mana bisa, aku tidak akan bisa tidur”
Ah, Hyun mulai berbelit-belit. Aku jadi tidak
nyaman. Apalagi untuk tidur. Ia seolah-olah mengulur waktu untuk sesuatu yang
sedang ditunggunya. Menunggu aku marah. Naik darah. Jangan sampai itu terjadi.
Tidak pernah ia seperti ini sebelumnya. Jauh hari aku mengenalnya sebagai orang
yang penyabar dan baik. Sempurna. Sangat jauh berbeda dengan Hyun yangbaru kukenal malam ini. Ia begitu misterius.
Juga lebih serius dari biasanya.
“Bagaimana kalau kita berpisah,” tiba-tiba Hyun
mengatakan sesuatu. Hening. Apa yang sedari tadi terpikirkan olehku jadi
hilang. Aku seakan tidak percaya. Kalau bisa, aku ingin ia mengulangi
kata-katanya barusan. Kucoba itu.
“Apa?”
“Kita pisah”, jelas Hyun.
“Maksudmu cerai,” tanyaku ragu.
“Ya”
Sudah kuduga. Kecemasanku terungkap. Apa yang
menjadi ketakutanku selama bersamanya meledak seketika itu. Padahal sebelumnya
kami saling percaya bahwa akan segera memiliki anak. Kurasa aku tidak perlu
lagi menanyakan alasannya. Jawabannya sudah lama bersarang di kepalaku.
Kecukupan selama ini ternyata adalah kekurangan. Hyun menyimpan semuanya dan
sekarang ia utarakan. Luapan perasaan sebenarnya. Emosinya itu. Suasana hampa.
Beku. Teratai dalam kolam di depan apartemen hanya tinggal sekumpul. Lainnya
entah kemana (barangkali tercerai-berai).
Lisa, perempuan penjual bunga itu, masih berdiri di
ambang pintu. Pot-pot bunga miliknya berjejer di halaman. Sementara senja,
terus condong menuju kepulangannya. Lisa terus memaku diri dan menciptakan
lamunan yang abadi. Ia membayangkan bunga-bunga masih akan terus tumbuh di sekitar
Parque Salazar kecuali jika tangan-tangan usil yang singgah di taman itu tidak
memetik tangkainya atau menginjak hamparan bunga yang tumbuh di Milaflores.
Hal itulah
yang membuatnya terus bersemangat untuk hidup, bertahan dari penyakit yang telah
dideritanya selama dua tahun. Tidak itu saja, setiap malam ia menghabiskan
waktu duduk di tangga batu dekat tepi pantai. Katanya, ia menantikan sebuah
kapal yang akan membawa ayahnya pulang dari melaut. Bahkan, ia selalu berharap
agar Tuhan mengembalikan ayahnya yang telah berlayar hampir empat tahun.
Sementara ibunya, Lisa jadi teringat dengan kalimat yang dengan jelas ia dengar
dua setengah tahun lalu;kau jangan
kemana-mana, anak haram! Diam di rumah dan tunggu sampai ibu pulang.
Kalimat itu ia dengar ketika ibu sedang merias wajahnya di depan cermin.
Kemudian, sejak malam itu, ibunya tak pernah kembali lagi.
Di dalam
rumah, Lisa hanya sendirian.
Baginya, menjadi
penjual bunga adalah kehidupan yang menyenangkan. Kadang sesaat, ia berpikir
untuk tetap bertahan di Quebrada agar ia dapat menjual bunga-bunga yang masih
segar di sekitar pantai atau Terrazas. Di tempat itu, ia akan menemukan
orang-orang yang sedang jatuh cinta lalu mereka akan membeli setangkai bunga
untuk pasangannya. Bunga segar tersebut dijual Lisa setelah berhari-hari ia
perhatikan di dalam pot dan ia percaya bahwa kelopaknya telah merekah dan siap untuk
dijual.
Walaupun
sebenarnya Lisa belum pernah merasakan jatuh cinta kepada seseorang atau
sebaliknya tetapi ia memiliki kerinduan yang dalam kepada ayahnya. Sampai
sekarang pun kerinduan itu masih terus tumbuh. Kerinduan yang akan memupuk rasa
cinta menjadi teramat dalam. Oleh sebab itu pula, telah bersemayam keyakinan
yang abadi di dalam dirinya. Setiap malam ia akan menantikan kapal milik
ayahnya bersandar di tepi pantai. Kapal dengan layar utama, layar pembantu,
pucuk kapal, pelampung, sekoci dan warna bendera yang sangat akrab dalam
ingatannya. Maka ayahnya akan berkata; halo nak, ayah membawa banyak ikan.
Juga salmon kesukaanmu. Ayo kemari, peluk ayah.
Begitulah
impian dan harapannya. Keyakinan benar-benar telah tumbuh dan abadi di dalam
dirinya. Sementara, setiap kali ke bibir pantai, ia selalu menyaksikan gulungan
ombak menjilat kakinya dengan lembut, menghantam dinding batu dan mengikisnya.
Dan seperti sesuatu yang mustahil jika ayahnya akan kembali.
Pernah suatu
ketika badai kencang dan gelombang tinggi melanda Milaflores. Ketika itu, saat
badai dan gelombang benar-benar telah mencapai puncak kejayaannya, Lisa berlari
menyusuri Avenida Pardo dan Avenida Grau yang berliku dan lengang. Ia menuju tangga batu dekat tepi pantai dengan setangkai
bunga yang sebagian kelopaknya telah lepas. Ia berdiri disana.
“Ayah, ayah,
ayah! Aku membawa setangkai bunga segar untukmu.” Ia berteriak. “Ayah lihatlah!
Lihat.” Dan seketika itu, teriakannya ditelan suara ombak dan badai. Walaupun
demikian, ia tetap percaya bahwa ombak akan mengantarkan ayahnya pulang.
Begitulah.
Kemudian ia
tersentak dan tersadar bahwa matahari telah menghilang di telan bangunan di
kawasan Parque Central. Saatnya bagi Lisa menutup pintu dan menghabiskan malam
dengan kesendiriannya. Sebentar kemudian, ia sempatkan untuk menghitung dan
memperhatikan bunga-bunga di dalam pot di depan halaman rumahnya.
Di waktu
malam, pekerjaan yang sering ia lakukan adalah memilah kelopak-kelopak bunga
yang tidak terjual untuk dibawa ke pemakaman. Kadang, orang-orang akan
membutuhkan kelopak-kelopak tersebut ketika salah seorang keluarga, kerabat
atau saudara jauhnya telah meninggal dalam waktu beberapa hari. Seketika itu,
Lisa menangis tersedu-sedu kemudian ia akan teringat orangtuanya.
Begitulah
perasaannya, ia membayangkan kematian orang tuanya. Ia akan merasa nyaman bila
ia dapat memastikan bahwa orangtuanya itu masih ada dekat di sampingnya
walaupun harus dalam keadaan tidak bernyawa. Maka, ia dapat menyiram pemakaman
ayah dan ibunya itu dengan air suci lalu ia akan menaburnya dengan
kelopak-kelopak bunga yang ia pilah setiap malam. Kemudian, ia akan bercerita
sendirian di samping makam-makam itu sampai bosan.
Bayangan itu
terus berkelebat setiap malam terutama setiap kali ia memilah kelopak bunga
berwarna merah. Ia terus tersedu sampai tertidur.
***
Hal yang
membuatnya sampai tersungkur jatuh, terjerembab dari atas kasur dan merintih
sambil menekan perutnya hingga bibi Hilda harus datang menolongnya adalah
ketika penyakit kronisnya kumat lagi. Dan pagi ini, hal itu terjadi lagi. Bibi
Hilda―tetangga satu-satunya yang paling akrab dengan Lisa―datang setelah ia
mendengar jeritan Lisa sampai ke telinganya. Lalu, seketika itu, bibi Hilda
bergegas membawa Lisa ke rumah sakit terdekat.
Beberapa
hari setelah dokter mengizinkan Lisa untuk pulang, bibi Hilda kembali menyarankan
agar Lisa berkenan tinggal bersamanya dan berhenti menjual bunga. Sama seperti
jawaban sebelumnya, Lisa tetap menolak penawaran itu karena ia tidak ingin
meninggalkan pekerjaan yang sangat disenanginya selama ini. Namun demikian,
bibi Hilda tetap terus memberlakukan penawaran itu.
Ketika kondisi
kesehatan Lisa mulai membaik, ia dihadapkan oleh pengakuan dari seorang nelayan
yang secara tiba-tiba datang ke rumahnya. Nelayan tersebut tidak lain adalah
laki-laki yang sepulang melaut sering menukarkan seekor ikan salmon miliknya
dengan setangkai bunga yang dijual Lisa. Laki-laki itu mengatakan bahwa ia
telah mendapat kabar gembira dari pulau seberang―yang kira-kira jaraknya
sepuluh kilometer dari bibir pantai. Ia menjelaskan dengan sejelas-jelasnya
bahwa seseorang telah menemukan ayah Lisa dalam keadaan hidup dan berlayar
dengan kapal yang sama persis dengan kapal yang dinahkodainya hampir empat
tahun lalu.
Sungguh!
Ayah Lisa akan pulang dalam waktu dekat.
Lisa
mempercayai apa yang dikatakan nelayan itu. Ia tidak akan berkesimpulan bahwa
laki-laki itu adalah pembohong besar. Lalu, ia memberikan beberapa tangkai bunga
yang segar kepada laki-laki itu.
Barangkali
benar bahwa penantiannya tidak akan sia-sia. Hati kecilnya selalu punya
keinginan kuat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang hampir mustahil untuk
dijelaskan dengan akal sehat. Ia akan bercerita kepada bunga apabila ia merasa
orang lain tidak akan mempercayai ceritanya. Ia akan berteriak kepada ombak
untuk menyampaikan kerinduan yang dalam dan membuncah kepada ayahnya.
Kepada
bunga. Kepada ombak. Ia akan terus menyatakan isi hatinya.
Akhirnya,
pada suatu ketika dimana badai kencang dan ombak bergejolak. Juga hujan deras.
Lisa mulai gelisah. Malam itu matanya tak mau terpejam. Kemudian ia teringat
penjelasan nelayan itu. Ia yakin bahwa laki-laki itu tidak akan berbohong
kepadanya. Dan, dengan segera, ia membunuh pikiran buruknya.
Ia meloncat
dari tempat tidur dan bergegas keluar. Sesaat itu pula, ia menerobos hujan dan
menyusuri jalan. Menyusuri Avenida Pardo dan Avenida Grau yang berliku dan
lengang. Sebentar kemudian, ia sampai di tangga batu dekat tepi pantai dengan
setangkai bunga―yang kelopak-kelopaknya telah lepas―dalam genggaman tangannya. Ia
melepas pandangan ke segala penjuru. Seketika itu, rasa sakit menjalar di
tubuhnya. Ia merintih dan menekan perutnya yang sakit sambil tetap terus
mempertahankan pandangannya.
Kemudian
matanya tertuju pada sesuatu yang bergerak di laut. Sesuatu dengan lampu sorot
yang menyilaukan. Di dalam terpaan hujan, badai dan ombak, ia terus
memperhatikan sumber cahaya tersebut. Walaupun samar-samar, ia dapat melihat
dengan pasti sesuatu dengan layar utama, layar pembantu, pucuk kapal,
pelampung, sekoci dan warna bendera yang sangat akrab dalam ingatannya.
Itu sebuah
kapal!
Sayup-sayup
ia pun mendengar; turunkan sekoci! Turunkan! Bawa ikan-ikan salmon itu
turun.