0 Cinta Dalam Percik Hujan

Sabtu, 10 September 2011 Label:

“Oh tidak. Hujan!” Ucap Diana dengan nada suara yang tinggi, berusaha mengalahkan bunyi hujan. Ia berlari mengejar halte, aku mengikutinya dari belakang.
Aku duduk di sampingnya sambil berusaha agar tidak kelihatan kikuk. Sementara, udara terasa dingin. Seekor burung berlindung di atas balkon rumah bertingkat di seberang jalan. Sementara, pakaian putih abu-abu yang lembab di tubuh Diana membuatnya terlihat memesona.
Aku ingin lebih lama lagi dalam deras hujan ini bersamanya, tanpa memperhitungkan kapan kami akan mengakhiri perjumpaan. Sepanjang hari. Siapa pun pasti selalu ingin dekat dengan Diana. Sudah pintar, jago masak, suaranya pun merdu.
Diana pernah menjuarai lomba menyanyi tingkat nasional. Meskipun begitu, Diana tidak pernah merasa angkuh dengan reputasi yang dimilikinya. Semua cowok jatuh hati dibuatnya. Semua cewek di sekolah iri padanya.
Dan, wajar saja kalau aku betah berlama-lama di halte ini bersamanya. Jarang banget cowok-cowok di sekolah yang punya kesempatan seperti ini. Tentu saja, aku tak ingin kesempatan seperti ini berlalu bagai angin. Inilah saat yang tepat untuk menyatakan perasaanku padanya.
Aku merasa beruntung. Dalam keadaan seperti ini, aku bisa duduk berdua dengannya, di halte. Rasa-rasanya aku ingin hujan terus turun sepanjang hari.
Diana mengibas rambutnya yang basah dengan kedua telapak tangannya yang mungil. Rambutnya berkilauan indah tergerai sepanjang bahu. Ia rapikan dengan hati-hati.
“Aku enggak menyangka kalau kita harus terkurung hujan begini,” aku memulai pembicaraan meskipun hatiku tiba-tiba berdebar dan sikapku yang terlihat canggung.
“Iya nih. Enggak tahu deh tiba-tiba turun hujan,” ujar Diana sambil terus merapikan rambutnya yang basah.
Beberapa saat kami kembali diam. Sepertinya suaraku ditelan gemericik hujan yang menusuk-nusuk atap halte. Kualihkan pandang kepada seekor burung yang masih berlindung di atas balkon. Burung itu terus mengibaskan sayapnya dan sesekali mengelusnya dengan paruh. Tentu saja burung itu tidak akan tahu kapan hujan akan berhenti. Ia juga tidak akan dapat menebak kapan si pemilik rumah akan muncul dari atas balkon dan mengusirnya.
Diana mendengus. Perhatianku terhadapnya jelas-jelas mengalahkan keelokan seekor burung di atas balkon. Matanya yang lembut memancarkan keriangan yang murni. Seolah-olah ratusan anak-anak sedang bermain komidi putar di dalamnya.
Diana tiba-tiba berdiri, mendekat ke arah hujan yang jatuh dari atap halte. Dia rentangkan kedua tangannya ke depan. Meraih hujan. Sehingga telapak tangannya menimbulkan percik air. Dan kurasa ia sedang berada dalam kebosanan yang abadi.
“Konyol sekali ya, di saat-saat seperti ini harus turun hujan,” aih, tidak. Aku mulai melakukan hal bodoh lagi dengan berkali-kali membicarakan cuaca.
Kuperhatikan, ia terus merentangkan tangannya dan membiarkannya dipercik hujan. Kurasa dia tidak mendengar apa yang baru saja kukatakan. Barangkali bunyi hujan lebih hebat dari keinginanku untuk mengajaknya bicara. Apakah dia benar-benar merasa bosan?
“Mosca,” katanya dengan suara yang pelan. Aku dengan sangat jelas mendengarnya. Tetapi dia tidak menoleh ke arahku. Pandangannya tertuju hanya pada percik hujan yang muncul dari telapak tangannya. Aku berdiri dan mendekatinya.
“Ya.”
“Aku suka hujan.”
“Ya.”
“Tetapi aku lebih suka beberapa saat setelah hujan reda.”
“Kenapa?”
“Biasanya akan ada pelangi.”
“Pelangi?”
“Ya.”
“Sebenarnya apa yang kau sukai?”
Diana menurunkan tangannya. Dia berbalik, mendengus dan duduk sambil menatap ke langit. Aku menjadi heran. Hujan pun mereda. Burung di atas balkon melangkah ke tepi, mengepakkan sayapnya berkali-kali untuk membuang sisa-sisa air yang menempel pada bulunya.
“Mengapa ya kita tidak bisa menyukai keduanya dalam waktu yang bersamaan?”
Aku terdiam. Tak dapat membendung pertanyaan yang dilontarkannya. Beberapa saat kemudian, hujan mereda. Pikiranku masih terusik oleh pertanyaan itu.
Tiba-tiba, sebuah sepeda motor merapat di depan halte. Itu Ramon, laki-laki yang senantiasa bersama Diana. Aku tak hirau. Kuperhatikan Diana mulai beranjak, matanya melompat jauh ke dalam sepeda motor itu. Perlahan-lahan tubuhnya juga beranjak ke sana. Dia tidak menunggu jawabanku. Aku terdiam.
Kutolehkan pandanganku ke atas balkon seraya membiarkan mereka pergi dengan meninggalkan suara sepeda motor yang semakin sirna di telingaku. Pada saat itu juga, burung itu terbang jauh meninggalkan rumah bertingkat yang lembab.



Eureka! 2011
Read more

0 Cerai Teratai

Label:

Sumber            : Padang Ekspres 5 Agustus 2007


Han Hyun Dong menarik napas panjang ketika melihat keluar jendela dari tingkap apartemen di Youido. Persis di tengah-tengah kota Seoul yang kini sudah jadi kota “mati.” Gedung-gedung berdesakan seperti menunggu antrian panjang yang tak pernah berkesudahan. Matahari enggan disapa sebab perkantoran dan apartemen yang bertingkat-tingkat menghalangi cahayanya. Orang-orang pun seperti dikejar waktu dan jadilah mereka robot-robot bernyawa yang bergerak setiap hari secara statis. Ah, barangkali hanya sungai Han yang bisa jadi hiasan abadi di kota ini. Sungai itu mengalir melewati Seoul. Hyun tersentak dari lamunan ketika mendengar suara gumamanku yang setengah sadar.
“Kau sudah bangun?” sapa Hyun.
“Ah, aku belum ingin bangun. Sayang, bisakah kau tutup tirai itu?” pintaku. Hyun malah menghampiri jam weker yang terletak di atas meja dekat tempat tidur. Kemudian Ia mengangkat jam weker itu lalu menunjukannya padaku.
“Kau tahu jam berapa sekarang?”
Aku kaget dan langsung melompat dari tempat tidur. “Ya ampun! aku lupa menyetel alarmnya,” pikirku sembari bergegas ke kamar mandi tanpa melepas piyama.
Sarapan tersaji. Masakan Hyun menjadi sesuatu yang selalu ditunggu-tunggu setiap pagi ketika aku akan berangkat kerja. Rupa-rupanya aku telah jatuh cinta tidak hanya pada Hyun tapi juga pada masakannya. Sungguh. Kimchi buatannya pagi ini pasti enak. Kadang-kadang bulgogi di akhir pekan yaitu potongan-potongan daging yang dipanggang di atas tungku setelah diasinkan dalam sebuah pencampur sambal, minyak wijen, bawang putih, biji wijen, bawang hijau dan bumbu makanan lainnya. Ia tahu kalau aku suka pedas dan panas jadi ia menyajikannya dengan “sedemikian rupa.” Makan dengan tenang. Selepas sarapan aku pamit lalu bergegas turun sedang Hyun membereskan kembali meja makan. Segera. Turun dengan lift. Tidak. Beberapa hari yang lalu lift di sini rusak akibat salah seorang penghuni apartemen salah menekan tombol dari dalam lift tersebut, jadi harus menggunakan satu-satunya alternatif lain yaitu dengan menuruni tangga. Butuh waktu cukup lama juga untuk turun dari lantai 26 ini. Ya. Apalagi untuk sampai ke tempat kerja, aku mengukur waktu supaya tidak terlambat. Sesampai di bawah aku cukup merasa kelelahan. Sedikit berkeringat. Di depan apartemen terdapat sebuah kolam yang dihiasi dua kumpulan teratai. Di tengahnya berdiri kokoh sebuah patung yaitu seorang perempuan (kira-kira usianya tiga puluh-an) yang memegang setangkai teratai di tangan kanannya, sedangkan tangan kiri menyentuh dada dan matanya menatap jauh ke dalam air yang berada di kolam tersebut. Biasanya tiap-tiap rumah ada kolam teratainya tapi sekarang kebiasaan itu hampir jarang dijumpai kecuali di rumah-rumah daerah pedesaan. Di apartemen ini pun mungkin hanya suatu kebetulan yang wajar. Jalan penuh sesak. Orang-orang lebih senang berjalan kaki daripada naik bis. Jalan kaki menjadi alternatif yang dipilih supaya tidak terlambat pergi ke kantor, sekolah, dan segala tetek bengek kegiatan sehari-hari lainnya. Mereka beranggapan bahwa jalan kaki lebih cepat sampai di tujuan daripada naik bis. Terbukti. Di halte. Aku menunggu lagi seperti biasa. Bis layaknya mesin pengendali kehidupan. Terlambat sedetik saja bisa jadi terlambat berjam-jam. Untung saja tidak terlambat. Akhirnya sampai juga.
Aku bekerja di Chosun Ilbo. Sebuah instansi surat kabar tertua yang ada di Korea. Dong-A Ilbo. Juga merupakan yang tertua bersamaan dengan Chosun Ilbo. Media-media tersebut diresmikan pada tahun 1920 yang (menurut kabarnya) dianggap untuk kemerdekaan dan kebijaksanaan dalam mempengaruhi opini publik. Sungguh pengalaman yang menyenangkan bisa melakukan pekerjaan sebagai seorang kreator pada media yang namanya sudah melanglang buana itu. Tidak mudah mendapatkan pekerjaan ini jadi harus berusaha semaksimal mungkin.
Pernah suatu ketika aku membuat satu kesalahan (tepatnya kelalaian) sehingga redaktur memaki-maki aku dan hasil kerjaku yang menurutnya berantakan. Aku tidak terpukul. Sedih. Juga tidak. Malah jadi tambah semangat bekerja dan lebih berhati-hati lagi. Jadwal kerja semakin padat. Sirkulasi surat kabar meningkat tajam. Hampir sepertiga hari kuhabiskan hanya untuk duduk di kursi kerja. Sibuk. Repot.
Lelah. Kata-kata itu sering muncul dalam pikiranku setiap kali usai bekerja. Betapa tidak, pagi-pagi tumpukan kertas sudah menanti lagi di atas meja kerja. Pulang larut. Disamping itu semua, ada hal lain yang mesti diutamakan. Keluarga. Ya. Ketika tiba di rumah, Hyun seperti biasa menunggu kepulanganku di kursi sofa dekat depan pintu. Suamiku. Ia laki-laki tangguh yang bekerja di rumah layaknya seorang ibu rumah tangga. Ia menggantikan peran sesungguhnya seorang istri. Kadang-kadang ia juga sempat menulis. Profesinya. Tulisannya pernah dimuat dalam surat kabar tempat aku bekerja (kadang-kadang juga disurat kabar lain). Ia begitu perhatian padaku dalam hal apapun. Juga pengertiannya itu. Aku jadi takut kehilangannya. Takut kalau-kalau nanti ia berubah pikiran.
Festival Chusok. Hari yang ditunggu-tunggu di mana aku bisa membagi waktu dengan suami di luar pekerjaan. Hilang beban sejenak. Chusok merupakan perayaan besar yang diiringi oleh tarian Kanggangsuwolle untuk memperingati hari lahirnya Budha. Di adakan di sebuah ruangan seperti arena yang luas, biasanya ruangan tersebut memang ditujukan untuk perayaan-perayaan besar (kadang-kadang juga untuk pementasan). Aku menikmatinya. Juga suamiku. Tidak. Sanak keluarga tidak sedang bersama kami. Wajar. Aku sudah memilih Hyun. Aku yakin dengan pilihan ini. Sebenarnya memang dari dulu mereka tidak menyetujui hubunganku dengan Hyun. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi jauh meninggalkan mereka. Ah, aku jadi teringat mereka lagi. sudahlah.
Sekarang hidup kami sudah mapan tapi rasanya masih ada saja yang kurang. Ya. Sudah sewindu kami menikah tapi belum juga dikaruniai seorang anak yang keberadaannya selalu didambakan dalam kehidupan rumah tangga. Segala cara kami lakukan. Segala obat kami coba. Ada juga yang dicoba-coba. Pernah juga sekali waktu kami konsultasi ke klinik. Dokter bilang suamiku yang tidak mau “berusaha.” Sebenarnya bisa saja kami mengadopsi seorang anak tapi itu bukanlah suatu keputusan akhir yang kami anggap baik. Hyun tidak marah. Putus asa. Tidak juga. Sedih apalagi. Padahal aku berkali-kali mencemaskannya, tapi ia tak memberi reaksi sedikitpun. Apa ia merasa hal ini tidak terlalu penting? Apa mungkin ini karma? Lama-lama kami jadi merasa asing. Kemelut batin yang juga asing.

***

Tidak seperti hari-hari yang lalu. Aku pulang larut lagi. Lebih larut dari biasanya. Di salah satu sudut dinding, jarum jam menunjukan pukul dua belas lewat dua puluh lima menit tengah malam. Hyun masih duduk di sofa. Menungguku. Tapi kali ini aku merasa  seolah-olah ia menyambut kepulanganku dengan ribu-ribu pertanyaan. Kemudian ia memanggilku untuk duduk di dekatnya. Aneh. Padahal biasanya ia langsung menuntunku ke kamar tidur. Aku langsung berpikir kalau ia akan mengatakan sesuatu yang sangat penting. Lebih dari kata-kata yang pernah diucapkannya selama ini. Akhirnya aku pun menurutinya.
“Hwa Rin, aku mau bicara. Mungkin sebuah pertanyaan,” Hyun menatapku tajam.
“Pasti sesuatu yang penting,” aku menebak sembari meletakkan tas kerjaku di atas meja dekat sofa tempat Hyun duduk.
“Menurutku”
“Menurutmu?”
“Ya, menurutku. Aku tidak yakin menurutmu juga sama denganku,” Ia lebih tajam lagi menatapku. Sampai ke isi dalam mataku. Aku jadi semakin bingung dengan apa yang ia sampaikan diawal pertanyaan yang akan diutarakannya. Semakin penasaran. Aku menimbang bahwa aku ini istri yang baik selama ini. Bahkan menurut sudut pandangku, aku tidak pernah melakukan kesalahan yang akan membuatnya sakit hati atau mungkin melakukan sesuatu yang tidak menyenangkannya. Aku coba mengingat kembali satu persatu. Benar-benar tidak ada. Sungguh.
“Apa yang menurutmu penting sayang,” kucoba memegang tangannya.
“Boleh aku minum dulu?” pintanya.
“Minum? Jadi itu yang menurutmu penting?” aku berbalik tanya.
“Bukan, aku benar-benar ingin minum!” tegasnya.
“Oh, sebentar.” Lalu aku bergegas ke dapur.
Semakin bingung. Kusut. Serupa benang kusut yang masuk dalam kepalaku. Sulit untuk digulung dengan rapi. Ah, mungkin aku terlalu berpikiran buruk sehingga aku tenggelam dalam kecemasan. Padahal setahuku selama ini hubunganku dengan Hyun baik-baik saja. Sekiraku kalau boleh aku bangga, rumah tanggaku mungkin lebih baik (boleh dibilang akur) daripada keluarga kebanyakan. Kutuang air dari cerek yang terletak di atas etalase dekat sudut dapur ke dalam cangkir bermotif teratai yang tertelungkup di atas meja dapur. Lalu kembali ke ruang tamu tempat Hyun menunggu secangkir air putih dariku. Sebelum sampai, di balik daun pintu menuju ruang tamu kuhentikan langkahku sebentar. Kulihat ia masih duduk di sofa dengan wajah mengkerut dan tangan yang menekuk di keningnya. Sempat terpikir olehku, pertanyaan apa yang akan disampaikannya padaku hingga ia begitu kalutnya. Ah, lagi-lagi aku begini. Kuhampiri ia. Sebelum meneguk air itu, sekilas ia menatap tajam lagi padaku. Sekiraku, aku ini seperti orang lain saja di matanya. Ah, lagi-lagi! Ia meminumnya. Kubayangkan kalau air putih itu adalah aku. Ditelan ke dalam perutnya yang gelap.
“Terima kasih Hwa Rin”
“…”
“Dam Hwa Rin? Kenapa?”
“Oh, tidak”
“Aku jadi ragu untuk menanyakannya”
“kenapa? Padahal sudah sedari tadi aku menantinya”
“Aku ragu bila melihat keadaanmu sekarang”
“Tidak, jangan urungkan. Aku sudah siap”
“Siap? Untuk apa? Tidak ada yang perlu di persiapkan”
“Aku tahu, mulailah bertanya”
“Benarkah?”
“Ya, mulailah”
Lama sekali. Kami saling tertumbuk pandang. Berdiam diri. Detak jarum jam berbunyi keras sekali hingga menimpali suara apapun di ruangan ini. Aku masih menunggu lama hanya untuk sebuah pertanyaan darinya. Pertanyaan yang barangkali menentukan hidup mati perjalanan rumah tangga kami. Asumsiku demikian. Tapi tidak menutup kemungkinan juga perkiraanku itu benar. Berbanding lima puluh persen dari kebalikannya.
“Apalagi?” tanyaku.
“Menyusun”
“Menyusun apa,” aku jadi heran.
“Kata-kataku”
“Langsung saja,” pintaku.
“Tidak bisa, salah-salah nanti bisa tersinggung”
“Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa dengan itu”
“Siapa yang telah membuatmu tersinggung?” tanya Hyun segera.
“Tidak separah yang kau bayangkan, hanya redaktur yang sedikit kecewa kok,” aku memperjelas kata-kataku.
“Oh, jadi kau mengecewakannya?”
“Hanya sedikit, itu pun tidak begitu penting,” dalihku.
“Syukurlah”
“Susunlah”
”Apa?”
“Kata-katamu tadi”
“Aku bingung memulainya, bagaimana kalau kita istirahat dulu?” tawar Hyun.
“Mana bisa, aku tidak akan bisa tidur”
Ah, Hyun mulai berbelit-belit. Aku jadi tidak nyaman. Apalagi untuk tidur. Ia seolah-olah mengulur waktu untuk sesuatu yang sedang ditunggunya. Menunggu aku marah. Naik darah. Jangan sampai itu terjadi. Tidak pernah ia seperti ini sebelumnya. Jauh hari aku mengenalnya sebagai orang yang penyabar dan baik. Sempurna. Sangat jauh berbeda dengan Hyun yang  baru kukenal malam ini. Ia begitu misterius. Juga lebih serius dari biasanya.
“Bagaimana kalau kita berpisah,” tiba-tiba Hyun mengatakan sesuatu. Hening. Apa yang sedari tadi terpikirkan olehku jadi hilang. Aku seakan tidak percaya. Kalau bisa, aku ingin ia mengulangi kata-katanya barusan. Kucoba itu.
“Apa?”
“Kita pisah”, jelas Hyun.
“Maksudmu cerai,” tanyaku ragu.
“Ya”
Sudah kuduga. Kecemasanku terungkap. Apa yang menjadi ketakutanku selama bersamanya meledak seketika itu. Padahal sebelumnya kami saling percaya bahwa akan segera memiliki anak. Kurasa aku tidak perlu lagi menanyakan alasannya. Jawabannya sudah lama bersarang di kepalaku. Kecukupan selama ini ternyata adalah kekurangan. Hyun menyimpan semuanya dan sekarang ia utarakan. Luapan perasaan sebenarnya. Emosinya itu. Suasana hampa. Beku. Teratai dalam kolam di depan apartemen hanya tinggal sekumpul. Lainnya entah kemana (barangkali tercerai-berai).

Padang, 13 Mei 2007
Read more

0 Bunga Dan Ombak

Label:

Sumber            : Padang Ekspres 8 Juni 2008




Lisa, perempuan penjual bunga itu, masih berdiri di ambang pintu. Pot-pot bunga miliknya berjejer di halaman. Sementara senja, terus condong menuju kepulangannya. Lisa terus memaku diri dan menciptakan lamunan yang abadi. Ia membayangkan bunga-bunga masih akan terus tumbuh di sekitar Parque Salazar kecuali jika tangan-tangan usil yang singgah di taman itu tidak memetik tangkainya atau menginjak hamparan bunga yang tumbuh di Milaflores.
Hal itulah yang membuatnya terus bersemangat untuk hidup, bertahan dari penyakit yang telah dideritanya selama dua tahun. Tidak itu saja, setiap malam ia menghabiskan waktu duduk di tangga batu dekat tepi pantai. Katanya, ia menantikan sebuah kapal yang akan membawa ayahnya pulang dari melaut. Bahkan, ia selalu berharap agar Tuhan mengembalikan ayahnya yang telah berlayar hampir empat tahun. Sementara ibunya, Lisa jadi teringat dengan kalimat yang dengan jelas ia dengar dua setengah tahun lalu;  kau jangan kemana-mana, anak haram! Diam di rumah dan tunggu sampai ibu pulang. Kalimat itu ia dengar ketika ibu sedang merias wajahnya di depan cermin. Kemudian, sejak malam itu, ibunya tak pernah kembali lagi.
Di dalam rumah, Lisa hanya sendirian.
Baginya, menjadi penjual bunga adalah kehidupan yang menyenangkan. Kadang sesaat, ia berpikir untuk tetap bertahan di Quebrada agar ia dapat menjual bunga-bunga yang masih segar di sekitar pantai atau Terrazas. Di tempat itu, ia akan menemukan orang-orang yang sedang jatuh cinta lalu mereka akan membeli setangkai bunga untuk pasangannya. Bunga segar tersebut dijual Lisa setelah berhari-hari ia perhatikan di dalam pot dan ia percaya bahwa kelopaknya telah merekah dan siap untuk dijual.
Walaupun sebenarnya Lisa belum pernah merasakan jatuh cinta kepada seseorang atau sebaliknya tetapi ia memiliki kerinduan yang dalam kepada ayahnya. Sampai sekarang pun kerinduan itu masih terus tumbuh. Kerinduan yang akan memupuk rasa cinta menjadi teramat dalam. Oleh sebab itu pula, telah bersemayam keyakinan yang abadi di dalam dirinya. Setiap malam ia akan menantikan kapal milik ayahnya bersandar di tepi pantai. Kapal dengan layar utama, layar pembantu, pucuk kapal, pelampung, sekoci dan warna bendera yang sangat akrab dalam ingatannya. Maka ayahnya akan berkata; halo nak, ayah membawa banyak ikan. Juga salmon kesukaanmu. Ayo kemari, peluk ayah.
Begitulah impian dan harapannya. Keyakinan benar-benar telah tumbuh dan abadi di dalam dirinya. Sementara, setiap kali ke bibir pantai, ia selalu menyaksikan gulungan ombak menjilat kakinya dengan lembut, menghantam dinding batu dan mengikisnya. Dan seperti sesuatu yang mustahil jika ayahnya akan kembali.
Pernah suatu ketika badai kencang dan gelombang tinggi melanda Milaflores. Ketika itu, saat badai dan gelombang benar-benar telah mencapai puncak kejayaannya, Lisa berlari menyusuri Avenida Pardo dan Avenida Grau yang berliku dan lengang. Ia menuju  tangga batu dekat tepi pantai dengan setangkai bunga yang sebagian kelopaknya telah lepas. Ia berdiri disana.
“Ayah, ayah, ayah! Aku membawa setangkai bunga segar untukmu.” Ia berteriak. “Ayah lihatlah! Lihat.” Dan seketika itu, teriakannya ditelan suara ombak dan badai. Walaupun demikian, ia tetap percaya bahwa ombak akan mengantarkan ayahnya pulang.
Begitulah.
Kemudian ia tersentak dan tersadar bahwa matahari telah menghilang di telan bangunan di kawasan Parque Central. Saatnya bagi Lisa menutup pintu dan menghabiskan malam dengan kesendiriannya. Sebentar kemudian, ia sempatkan untuk menghitung dan memperhatikan bunga-bunga di dalam pot di depan halaman rumahnya.
Di waktu malam, pekerjaan yang sering ia lakukan adalah memilah kelopak-kelopak bunga yang tidak terjual untuk dibawa ke pemakaman. Kadang, orang-orang akan membutuhkan kelopak-kelopak tersebut ketika salah seorang keluarga, kerabat atau saudara jauhnya telah meninggal dalam waktu beberapa hari. Seketika itu, Lisa menangis tersedu-sedu kemudian ia akan teringat orangtuanya.
Begitulah perasaannya, ia membayangkan kematian orang tuanya. Ia akan merasa nyaman bila ia dapat memastikan bahwa orangtuanya itu masih ada dekat di sampingnya walaupun harus dalam keadaan tidak bernyawa. Maka, ia dapat menyiram pemakaman ayah dan ibunya itu dengan air suci lalu ia akan menaburnya dengan kelopak-kelopak bunga yang ia pilah setiap malam. Kemudian, ia akan bercerita sendirian di samping makam-makam itu sampai bosan.
Bayangan itu terus berkelebat setiap malam terutama setiap kali ia memilah kelopak bunga berwarna merah. Ia terus tersedu sampai tertidur.
***
            Hal yang membuatnya sampai tersungkur jatuh, terjerembab dari atas kasur dan merintih sambil menekan perutnya hingga bibi Hilda harus datang menolongnya adalah ketika penyakit kronisnya kumat lagi. Dan pagi ini, hal itu terjadi lagi. Bibi Hilda―tetangga satu-satunya yang paling akrab dengan Lisa―datang setelah ia mendengar jeritan Lisa sampai ke telinganya. Lalu, seketika itu, bibi Hilda bergegas membawa Lisa ke rumah sakit terdekat.
Beberapa hari setelah dokter mengizinkan Lisa untuk pulang, bibi Hilda kembali menyarankan agar Lisa berkenan tinggal bersamanya dan berhenti menjual bunga. Sama seperti jawaban sebelumnya, Lisa tetap menolak penawaran itu karena ia tidak ingin meninggalkan pekerjaan yang sangat disenanginya selama ini. Namun demikian, bibi Hilda tetap terus memberlakukan penawaran itu.
Ketika kondisi kesehatan Lisa mulai membaik, ia dihadapkan oleh pengakuan dari seorang nelayan yang secara tiba-tiba datang ke rumahnya. Nelayan tersebut tidak lain adalah laki-laki yang sepulang melaut sering menukarkan seekor ikan salmon miliknya dengan setangkai bunga yang dijual Lisa. Laki-laki itu mengatakan bahwa ia telah mendapat kabar gembira dari pulau seberang―yang kira-kira jaraknya sepuluh kilometer dari bibir pantai. Ia menjelaskan dengan sejelas-jelasnya bahwa seseorang telah menemukan ayah Lisa dalam keadaan hidup dan berlayar dengan kapal yang sama persis dengan kapal yang dinahkodainya hampir empat tahun lalu.
Sungguh! Ayah Lisa akan pulang dalam waktu dekat.
Lisa mempercayai apa yang dikatakan nelayan itu. Ia tidak akan berkesimpulan bahwa laki-laki itu adalah pembohong besar. Lalu, ia memberikan beberapa tangkai bunga yang segar kepada laki-laki itu.
Barangkali benar bahwa penantiannya tidak akan sia-sia. Hati kecilnya selalu punya keinginan kuat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang hampir mustahil untuk dijelaskan dengan akal sehat. Ia akan bercerita kepada bunga apabila ia merasa orang lain tidak akan mempercayai ceritanya. Ia akan berteriak kepada ombak untuk menyampaikan kerinduan yang dalam dan membuncah kepada ayahnya.
Kepada bunga. Kepada ombak. Ia akan terus menyatakan isi hatinya.
Akhirnya, pada suatu ketika dimana badai kencang dan ombak bergejolak. Juga hujan deras. Lisa mulai gelisah. Malam itu matanya tak mau terpejam. Kemudian ia teringat penjelasan nelayan itu. Ia yakin bahwa laki-laki itu tidak akan berbohong kepadanya. Dan, dengan segera, ia membunuh pikiran buruknya.
Ia meloncat dari tempat tidur dan bergegas keluar. Sesaat itu pula, ia menerobos hujan dan menyusuri jalan. Menyusuri Avenida Pardo dan Avenida Grau yang berliku dan lengang. Sebentar kemudian, ia sampai di tangga batu dekat tepi pantai dengan setangkai bunga―yang kelopak-kelopaknya telah lepas―dalam genggaman tangannya. Ia melepas pandangan ke segala penjuru. Seketika itu, rasa sakit menjalar di tubuhnya. Ia merintih dan menekan perutnya yang sakit sambil tetap terus mempertahankan pandangannya.
Kemudian matanya tertuju pada sesuatu yang bergerak di laut. Sesuatu dengan lampu sorot yang menyilaukan. Di dalam terpaan hujan, badai dan ombak, ia terus memperhatikan sumber cahaya tersebut. Walaupun samar-samar, ia dapat melihat dengan pasti sesuatu dengan layar utama, layar pembantu, pucuk kapal, pelampung, sekoci dan warna bendera yang sangat akrab dalam ingatannya.
Itu sebuah kapal!
Sayup-sayup ia pun mendengar; turunkan sekoci! Turunkan! Bawa ikan-ikan salmon itu turun.

Rumah Teduh, akhir April 2008
Read more
 
Dani-Quinchy © 2010 | Designed by Blogger Hacks | Blogger Template by ColorizeTemplates