0 Type Shabiriin-54/107 Di Villa Ilham Asri " Cocok Untuk Keluarga Baru"

Senin, 12 September 2011 Label:


PEKANBARU-Dalam memenuhi kebutuhan masyarakat untuk mempunyai rumah sendiri,Villa Ilah Asri menyediakan bangunan bertype minimalis dan  sangat cocok untuk sebuah keluarga baru dengan Type rumah Shabiriin 54/107 yang memunyai dua kamar tidur, dapur, ruang tamu, dan kamar mandi seta Pihak pengelola memberikan banyak keringanan untuk masyarakat yang hendak memilki hunian Rumah di Villa Ilham Asri yang berada di Jalan Paus Ujung No 10 ini mempunyai tempat yang stategis dan berada ditengah kota pekanbaru.

"Dengan mengusung nuansya Islami, kami menyediakan berbagai type untuk masyarakat, dan yang kami rekomendasikan untuk sebuah keluarga baru yaitu Type Shabiriin-54/107 yang munimalis dan tetap terkesan mewah," Wngkap Wati sebagai Merketing Villa Ilham Asri, Senin (12/9).

Dia mengatkan, keungulan dari Rumah yang berada di Villa Ilham Asri ini yaitu lebih kokoh dengan mengunakan pondasi ganda sehingga setiap rumah tidak akan mengalami lantai yang bergelombang atau jeblok.

"Kondisi rumah yang kami siapkan 100 persen kokoh mulai dari lantai yang dijamin tidak mengalami jeblok atau bergelombang, dan struktur bangunannya dicor dengan perbandingan semen dengan pasir 1 banding 2," jelasnya lagi.

Dan yang sangat membuat masyarakat tertarik untuk memiliki sebuah hunian di Villa Ilham Asri yaitu pihak pengelola memberikan terobosan yaitu dapat miliki rumah langsung tampa DP.

"yaitu cukup dengan membeyar biaya surat-surat rumah saja sebanyak sepuluh juta kunci rmah tersbut langsung ada di tangan anda," tambahnya lagi.




Read more

0 Villa Ilham Asri Pekanbaru, Mengembangkan Hunian Bernuansya Islami

Minggu, 11 September 2011 Label: ,


PEKANBARU-Ketika mendengar kata pengembang hunian berkonsep islami, pikiran awam pasti langsung tertuju pada bentuk-bentuk hunian dengan arsitektur Timur Tengah dengan bentuk-bentuk kubahnya. Nyatanya, hal itu sama sekali tidak akan ditemui di hunian Villa Ilham Asri Pekanbaru yang berada di jalan Paus Ujung No 10 Simpang Arifin Ahmad Pekanbaru.

Konsep hunian bernuansa islami yang dikembangkan Villa Ilham Asri dibuat seperti hunian pada umumnya. Hanya, perbedaannya terletak pada penciptaan nuansa religi di dalam lingkungan tempat tinggal seperti adanya mesjid yang menjadi simbol tempat ibadah umat muslim.

Pembangunan dimulai dengan membangun masjid di tengah-tengah komplek hunian sebagai tempat utama para penghuni menyatu dalam ibadah dan berinteraksi antara satu warga dengan warga penghuni lainnya. Tujuannya, dibangunnya masjid akan memudahkan penghuni melangkahkan kaki untuk menunaikan kewajibannya.

"Seperti konsep masjid zaman dahulu kala, dibangun ditengah kota kota. Penghuni yang tengah asyik beraktifitas seakan-akan diingatkan untuk merenung sejenak, kembali kepada Allah Swt. Secara berjamaah penghuni akan senang ke situ, yang akhirnya tumbuh suasana religi," kata Wati, Marketing Pemasaran Villa Ilham Asri ketika Dijumpai Haluan Riau, Senin (12/9) kemarin.

Dia JUga Mengatakan, Pada setiap rumah juga diberikan sebuah logo islami, hal ini untuk memperkuat simpol-simbol keislaman seseorang. dan untuk sembol tersebut akan dipasang di seluruh rumah yang ada di Villa Ilham Asri yang mencapai 210 unit rumah dari berbagai type.

"Kami memberikan model dan corak yang sama disetiap rumah, baik itu  mulai dari type 54 hingga 70," ungkapnya.

Wilayah yang luasnya mencapai tiga hektar tersebut talah membangun melakukan pembangunan sekitar 50 persen, dan rata-rata yang meminati hunian yang minimalis dan bernuasa islami tersebut adalah keluarga-keluarga baru, alias baru merid.

"Rata-rata yang tinggal disini adalah masyarakat dari daerah luar, dan baru menikah," ujarnya lagi.

Hal yang tidak kalah penting dalam pembangunan Villa Ilham Asri ini adalah perumahan ini terbebas dari bencana banjir. pasalnya pondasi tanah bangunan lebih tinggi dari wilayah yang lain.

"Jadi untuk banjir insyaallah tidak akan kena, jika kita tinggal di hunian Villa Ilham Asri" tutup Wati.
Read more

0 Wardan: Mutasi Dalam Tahap Penilaian Tim

Label:


PEKANBARU-kabar tentang  mutasi di lingkungan Pemerintahan Kota (Pemko) Pekanbaru kembali merak dibicarankan. Namun rencana ke tahap  itu masih dalam penilaian dengan memperhatikan sejauh mana kinerja  (Pegawai Negeri Sipil (PNS).

"Mutasi masih dalam proses penilaian, kami telah membentuk tim untuk memperhatikan kinerja PNS," kata Sekertaris Kota (Sekko) Pekanbaru, HM Wardan ketika dijumpai Haluan Riau, Jumat (9/9).

Dikatannya,untuk saat ini pihaknya  belum bisa memastikan kapan mutasi tersebut dilakukan. pasalnya mutasi tersebut harus dirapatkan dari Sekko, Kepala BKD, Inspektorat dan beberapa Asisten.

"Saya tidak bisa memastikan kapan dimulai prosesnya. Apapun rencana mutasi ini harus di bawah Baperjakat yang terdiri dari Sekko, kepala BKD, Inspektorat dan Asisten lainnya. Sebelum proses mutasi dilakukan, Tim ini akan melakukan rapat Baperjakat," jelas Wardan.

Lebih lanjut, Rapat yang dilakukan oleh tim Baperjakat tersebut, nantinya akan menentukan kapan proses mutasi dilakukan. Bukan hanya itu saja, untuk proses mutasi diprediksi sampai ke tingkat camat dan Lurah dikota Pekanbaru.

"Kemungkinan mutasi ada sampai ke Camat sepanjang penilaian kita ada terhadap kinerja para PNS tersebut," tuturnya.

Ditambahkan Wardan, mutasi itu untuk mengisi kekosongan pegawai yang ada di Pemko dan berdasarkan penilaian secara prioritas. Saat ini tim terus memantau kinerja PNS untuk mengetahui siapa yang layak untuk dimutasi nantinya.

"kami pun lebih mengutamakan mengisi kekosongan jabatan," tutupnya.
Read more

0 Sat Pol PP Tunggu Surat Resmi, Pencabutan Baliho Mantan Walikota

Label:


PEKANBARU-Untuk mencabut baloho-baliho mantan walikota Pekanbaru yang tersebar hampir diseluruh kecamatan, sejatinya adalah tugas dari Sat Pol PP, namun untuk hal yang demikian pihak PP masih menunggu surat resmi dari pucuk pimpinam yaitu PJ Wako Samsulrizal. Hal ini dungkapkan langsung Kepala Sat Pol PP, Edwar Husnan ketika dikomfirmasi Haluan Riau, Minggu (11/9).

"kami masih menunggu bagaimana kelanjutan terkait penertiban baliho wako yang lama," ujarnya.

Dia mengatakan, pemberitahuan secara lisan memang telah ada, namun pihaknya masih menunggu surat resminya. namun demikian pihaknya telah berangsur-angsur untuk mencabut baliho tersebut seperti baliho yang ada di sekitaran simpang tiga yang bekerja sama dengan pihak kebersiahan.

"beberapa hari yang  lalu, kita bersama pihak DKP sudah mulai menertipkan baliho yang ada di Simpang Tiga, hal itu berdasarkan intruksi yang kita terima secara lisan, sedangkan perintah secara tulisan hingga saat ini belum kita terima dari pak Syamsurizal" ujarnya

Sementara itu, pihak Satpol PP sendiri mengaku tidak tahu banyak tentang baliho siapa yang akan di pampangkan di sejumlah tempat yang sudah mulai ditertipkan tersebut, karena hal itu bukanlah tugas dan kewenangan dari Satpol PP.

"Kita kan hanya menjalankan tugas, apa yang diintruksikan pimpinan itu yang kita kerjakan, dan kami pun tidak tau foto siapa yang akan dipampang menggantikan foto pak Herman, karena itu adala kewenangan penjabat Walikota sekarang," tutur Erwad.
Read more

0 Era Film Bisu; Standing Ovation Terlama Sepanjang Sejarah Academy Award Oleh Delvi Yandra

Sabtu, 10 September 2011


Charlie Chaplin, adalah aktor komedi Inggris yang merupakan salah satu pemeran film terkenal dalam sejarah Hollywood di era film hitam putih, sekaligus sutradara film yang sukses. Ia juga suka merangkap-rangkap, mulai dari peran utama, sutradara, penulis naskah, hingga pengisi ilustrasi musik.
Di dalam film-filmnya, Sir Charles Spencer Chaplin, Jr. (16 April 1889-25 Desember 1977) sering memerankan karakter "The Tramp", seorang gelandangan berpotongan kumis petak yang memiliki etiket dan martabat seorang bangsawan. Kostum berupa jas kesempitan, celana panjang yang kebesaran, serta ke mana-mana membawa tongkat dan memakai topi tinggi
Chaplin pertama kali naik panggung di tahun 1894 sewaktu masih berusia 5 tahun. Tanpa persiapan sebelumnya, di sebuah teater di Aldershot, Chaplin secara mendadak diminta menggantikan ibunya. Chaplin pertama kali naik panggung dengan mendapatkan bayaran setelah bergabung dengan kelompok penari The Eight Lancashire Lads yang mementaskan pertunjukan music halls di Britania.
Film-film awal Chaplin diproduksi pada tahun 1914 di Keystone Studios yang merupakan tempat Chaplin belajar teknik pembuatan film, sekaligus mengembangkan karakter Tramp. Chaplin pertama kali memperkenalkan karakter Tramp kepada publik melalui film keduanya, Kid Auto Races at Venice (diedarkan 7 Februari 1914) dan film ketiganya Mabel's Strange Predicament (9 Januari 1914).
Di akhir kontrak dengan Keystone, Chaplin sudah bisa menyutradarai dan menyunting sendiri film-film pendek yang dibuatnya. Film-film tersebut ternyata sukses besar. Di tahun 1915, Chaplin menyetujui kontrak satu tahun dengan studio Essanay. Setelah itu, kontrak bernilai besar untuk selusin film komedi tipe dua reel disepakati Chaplin dengan studio Mutual Film di tahun 1916. Studio memberinya kebebasan artistik yang nyaris tanpa batas. Dalam dalam jangka waktu 18 bulan, Chaplin berhasil menyelesaikan 12 judul film.
Walaupun pembuat film lain sudah beralih pada film bersuara, Chaplin bertahan untuk tidak ikut-ikutan. Film bersuara sudah dikenal sejak tahun 1927, tapi Chaplin terus bertahan dengan film-film bisu selama dekade 1930-an.
Chaplin memenangkan 2 penghargaan kehormatan Academy Awards. Waktu itu belum ada prosedur audit pemungutan suara, dan penghargaan Oscar yang pertama dibagi-bagikan pada 16 Mei 1929 berdasarkan pembagian kategori yang sangat luwes.
Dewan Academy memutuskan untuk memberi penghargaan istimewa untuk kegeniusan, kemampuan serba bisa dalam akting, penulisan, penyutradaraan, dan produksi film The Circus. Film lain yang menerima penghargaan istimewa pada tahun itu adalah The Jazz Singer.
Penghargaan kehormatan yang kedua dari Academy diterima Chaplin 44 tahun kemudian di tahun 1972. Chaplin menerima penghargaan atas "pengaruh tak terhingga yang dibuatnya dan menjadikan film sebagai bentuk seni abad ini". Setelah Chaplin menerima penghargaan, para hadirin berdiri memberikan sambutan tepuk tangan selama 5 menit penuh yang hingga sekarang tercatat sebagai standing ovation terlama sepanjang sejarah Academy Award.
Di usia lanjut, Chaplin pernah memperoleh Academy Award yang didapatnya dari hasil kompetisi dan bukan secara kehormatan. Di tahun 1973, film Limelight (1952) mendapat penghargaan Oscar untuk ilustrasi Musik Asli (Best Music in an Original Dramatic Score). Dua film terakhir Chaplin dibuat di London yaitu A King in New York (1957) dan A Countess from Hong Kong (1967). Film A Countess from Hong Kong merupakan penampilan Chaplin yang terakhir, tampil singkat secara cameo sebagai awak kapal yang sedang mabuk laut.
Kesehatan Chaplin terus menurun di tahun 1970-an, dan meninggal sebelum angan-angannya terwujud. Salah satu karya yang diketahui sebagai karya terakhir Chaplin adalah ilustrasi musik yang ditulisnya untuk memperbarui A Woman of Paris, karyanya yang kurang sukses di tahun 1923.
Delvi Yandra, Divisi Acara Komunitas Putapilem
Read more

0 PESAN WAISAK 2555/2011 SANGHA AGUNG INDONESIA



Namo Sanghyang Adi Buddhaya
Namo Buddhaya Bodhisattvaya Mahasattvaya

Semua yang Terkondisi Tidak Abadi,
dengan Eling Berjuanglah untuk Pembebasan

Setiap bulan Waisak, umat Buddha di seluruh penjuru dunia merayakan kebiasaan religius agung yang kemudian dikenal sebagai hari raya Waisak atau Vesak day. Hari Waisak pada hakikatnya adalah hari kemanusiaan karena berisi kisah siklus hidup manusia unggul bernama Sidharta Gautama dengan dedikasi total terhadap kemanusiaan, alam, dan keharmonisan. Tepat pada tahun 623 sebelum masehi di Taman Lumbini Sidharta lahir; tahun 588 sebelum masehi mencapai pencerahan di Buddhagaya; kemudian tahun 543 sebelum masehi wafat di hutan Sala milik suku Malla, Kusinara.

Waisak menjadi penting untuk terus diperingati karena memiliki nilai transformatif, memberi petunjuk paling manusiawi dalam mengisi kehidupan manusia. Sakyamuni Buddha memahami bahwa kehidupan dengan berbagai isinya merupakan sesuatu yang sementara (anicca), sehingga harus diisi dengan akumulasi perbuatan beradab yang mampu menopang kebahagiaan, kesejahteraan sendiri, dan makhluk lain (M.I.415-419). Kesempurnaan budi dan kejernihan hati membuatnya mampu menyadari bahwa kesementaraan adalah realitas hidup (A.I.286), berkah, peluang, sekaligus kesempatan untuk terus berkarya bukan sebagai ancaman, pemicu ketakutan, hingga terbelenggu, serta menghamba pada hal-hal rendah.

Mampukah kita memiliki kejernihan Buddha dalam menatap kehidupan? Sakyamuni Buddha menegaskan bahwa kejernihan, bahkan ke-Buddha-an bukanlah monopoli milikNya (Saddharmapundarika Sutra II), kejernihan akan datang bila dilatih dan dikondisikan (D.II.100). Salah satu metode yang efektif adalah dengan menghidupkan ”kesadaran” (D.II.290) yang dalam terminologi Jawa disebut ”eling”. Karakteristik ”eling” adalah jernih, waspada, sadar, laksana cermin jernih, mampu melihat sesuatu sebagaimana adanya. Kapasitas untuk terus ”eling” terhadap sesuatu yang terjadi di dalam diri dan lingkungan akan menuntun manusia untuk berjumpa dengan segala sesuatu dalam kondisi yang paling alamiah dan murni. Eling yang terasah adalah gerbang pengetahuan, penembusan realitas, gerbang kepedulian terhadap sesama, pemusnah pandangan salah (ditthasava) dan kebodohan (avijjasava) (D.II.91). Dalam hal ini bisa disimpulkan bahwa elingadalah gerbang pembebasan.

Menghadapi jebakan modernitas yang penuh dengan nuansa egoisme, individualisme, ketidakpedulian terhadap alam dan sesama, mengejar kenikmatan tanpa nurani, pengetahuan tanpa karakter, maka ”eling” menjadi alternatif sekaligus solusi yang prospektif dan relevan. Terjadinya defisit integritas dan kepedulian tersebut sebenarnya disebabkan oleh surplus kegaduhan mental yang tidak pernah tertangani secara tuntas sehingga membajak kejernihan manusia (bodhicitta) menjadi kekacauan.

Dalam mengatasinya, manusia cenderung berlindung dan terjebak pada ”pengalihan” terhadap hal-hal menyenangkan dan menenangkan yang bersifat sementara sehingga tidak pernah mencapai kebahagiaan sejati atau pembebasan. Akumulasi kegaduhan mental inilah sejatinya yang menjadi aktor utama penyebab ketidakbahagiaan dan pendorong perilaku negatif manusia sebagaimana diuraikan dalam kitab Tri Svabhava Nirdesa Sastra karya Vasubandhu seorang Dharma master Yogacara. Pikiran atau berbagai tindakan akan “tercetak” dalam gudang kesadaran yang terkumpul membentuk karakter manusia.

Dalam ajaran tentang eling atau meditasi vipassana bhavana (D.II.290-315), kebahagiaan atau pembebasan adalah hal yang sangat sederhana. Seseorang yang mampu untuk sekadar eling, menyadari segala sesuatu yang ada di dalam dan di luar diri dalam konteks ”kekinian” maka segala kegaduhan mental penyebab derita akan luruh dan tidak memiliki kekuatan. Hanya dengan eling, mengamati secara awas, bukan dengan menghakimi, memusuhi, menekan, maka pembebasan akan muncul dengan sendirinya. Pembebasan justru hadir manakala kita dapat berdamai dengan segala negativitas yang kita miliki maupun dengan berbagai kondisi yang ada. Melatih eling secara bersama akan menjadi sebuah kegiatan yang sangat efektif dan menyenangkan. Eling secara kolektif atau sosial ini sangat dianjurkan oleh guru Buddha sebagai sebuah bentuk perlindungan sosial (sangha) berupa komunitas orang-orang yang berkualitas secara spiritual (M.I.37). Tergerak oleh semangat pembebasan kolektif inilah, banyak bermunculan gerakan buddhis dunia yang terus berupaya menyelamatkan bumi dan segala isinya melalui berbagai program kegiatan riil, hal ini merupakan manifestasi dari energi pembebasan eling dalam sebuah organisasi pergerakan.

Dalam kontek Indonesia, semangat pembebasan melalui eling harus terus kita kobarkan bersama. Sikap sadar atau eling sosial akan mampu menangkap derita atau masalah sosial dan bereaksi spontan dengan belas kasih yang produktif dan solutif. Kita akan melihat masih adanya keterbelakangan, kemiskinan, kebodohan, maupun ketidakadilan secara jernih. Sebagai umat Buddha, kita terus aktif membantu pembebasan sosial tersebut tanpa mengedepankan sikap kecurigaan yang justru kontraproduktif. Umat dengan profesi bisnis memiliki landasan moral dan kepedulian sosial yang tinggi; yang menempuh jalur karir di pemerintahan eling dan amanah; sebagai pendidik mampu menciptakan generasi yang unggul melalui sikap keteladanan; sebagai petani ikut serta elingmembantu pelestarian alam; sebagai generasi muda eling memperkaya diri dengan ilmu dan nilai. Sikap eling kolektif ini akan bekerja sinergis sehingga pembebasan sosial mampu terwujud.

Bila kita cermati realitas sejarah, rekam jejak agama Buddha di Nusantara selalu bercirikan semangat pembebasan sosial. Pada pertengahan abad 7, kerajaan Ho-ling atau Kalingga di Jawa dihormati sebagai pusat peradaban Buddhis yang mampu mengangkat harkat dan martabat bangsanya. Peziarah Hui-Ning dari China yang berguru pada biarawan Kalingga bernama Jnanabhadra, menyatakan bahwa kehidupan masyarakat Kalingga tertata dengan baik, sinergis, adil, makmur karena rakyat berpadu dengan pemerintah mengusung nilai-nilai pembebasan dari kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan.

Semangat pembebasan sosial juga dapat kita lihat dari prasasti Talang Tuo, pada tahun 684 Masehi atau tahun 606 Saka, Raja Buddhis Kedatuan Sriwijaya, Dapunta Hyang Jaya Naga atau Sri Jayanasa membangun taman atau kebun Sriketra untuk rakyat di Talang Tuo dekat bukit Siguntang. Tekad atau pranidhana pembangunan taman atau kebun Sriketra didesikasikan sebagai pembebasan rakyat dari kemiskinan, keterbelakangan, sehingga diharapkan secara setapak demi setapak akan mampu mencapai kesejahteraan, kebahagiaan materi, peningkatan moral, dan akhirnya mencapai pembebasan dari semua derita. Dalam prasasti Talang Tuo jelas ditekankan pentingnya eling, atau samadhi sebagai jalan penghantar pembebasan, pencerahan mencapai anuttarabhisamyaksambodhisebagaimana petikan prasasti Talang Tuo berbahasa Melayu Kuno berikut: ”... tahu di samicranya cilpakala parawis samadhitacinta tmu ya prajnya smreti medhawi punarapi dhairyyamani mahasattwa ... awacana tmu ya anuttarabhisamyaksam vodhi ...”.

Ajaran Buddha yang sangat aplikatif di Sriwijaya kemudian menarik perhatian peziarah I-Ching sehingga berkunjung dan memperdalam ilmu keagamaan di Sriwijaya selama 3 kali pada tahun 671Masehi, 685-689 Masehi, dan tahun 689-695 Masehi. Berdasarkan catatan I-Ching, sistem pembelajaran agama Buddha di Sriwijaya dimulai dengan pengkajian kitab secara bersama, retreat-retreat Buddhis yang diisi dengan pengamalan ajaran eling dan belas kasih secara bersama; dan aktualisasi nilai Buddhis sebagai pembebas dari derita sosial sebagaimana tercermin dari semangat pranidhana pembangunan taman atau kebun Sriketra oleh Kedatuan Sriwijaya, Dapunta Hyang Jaya Naga. Kebersamaan pengkajian kitab dan retreat Dharma terorganisir, terhimpun yang pola dan sistemnya sama dengan yang berkembang di Madhyadesa India. Dharma centre mirip Madhyadesa dijadikan sebagai pusat kajian, penelitian pemikiran, maupun praktek Dharma yang bermuara pada pembebasan.

Bercermin dari rekam jejak Buddhis di Kalingga dan Sriwijaya, pola pendekatan praktek Dharma yang mengarah pada pembebasan sosial perlu kita adopsi, bangkitkan, lestarikan. Aspek liturgi, ritus tetap kita lestarikan sebagai sebuah pendekatan namun penekanan pada aspek pembebasan dengan metode elingurgen untuk diarusutamakan. Pengarusutamaan eling dapat dilakukan dengan memfungsikan organisasi keagamaan, wihara, institusi pendidikan yang kita miliki sebagaimana pola Madhyadesa yang dipraktekkan di Sriwijaya. Pola yang dikembangkan difokuskan pada pengkajian kitab, pembudayaan praktek Dharma berupa eling dan belas kasih yang mengarah pada pembebasan sosial. Konsistensi pelaksanaan pola ini akan mampu menjadikan eling sebagai jalan hidup atau menjadi budaya masyarakat. Masyarakat yang memiliki budaya hidup eling atau ”sadar” akan memiliki kapasitas untuk bangkit dan mencapai pembebasan bersama-sama. Hal ini selain akan bermanfaat bagi umat Buddha juga merupakan wujud pengabdian bagi bangsa dan negara. Masyarakat yang mampu eling, menata diri dengan baik akan selalu bermanfaat bagi sesama dan lingkungan alam sehingga menjadi modal dasar bagi pembangunan bangsa menuju bangsa besar dan berperadaban.

Akhirnya, marilah momentum Waisak ini kita jadikan sebagai momentum untuk bangkit, bertransformasi menuju manusia, masyarakat Buddhis yang sadar, eling, sehingga mampu menjadi bagian dari solusi terbebas dan membebaskan.

Sadhu Sadhu Sadhu.

Mettacittena,

SANGHA AGUNG INDONESIA




Mahathera Nyanasuryanadi
Ketua Umum

Read more

0 LINGKARAN (II)

Label:


masuk dan bertandanglah  engkau
wahai yang takut pintu dan jendela
disini tak melulu setan yang dikutuk tanpa alasan
tapi juga serta malaikat sesat yang jenuh mencatat
dan tak henti beribadat tanpa sebab

akan ada yang bersalin rupa
cuaca datang dalam lain suasana

ada sepetik api telah siap membara
jauh sebelum kita menyalakannya
kita akan segera menjelma binasa
jika menolak memadamkannya
dengan air mata















Read more
 
Dani-Quinchy © 2010 | Designed by Blogger Hacks | Blogger Template by ColorizeTemplates